MAKALAH ILMU SOSIAL DASAR
“MASYARAKAT
PEDESAAN DAN PERKOTAAN”
Nama : Ambia Rahman (50416698)
Gilang Daniyal Fiqri (53416040)
Kristiyanto Halim (53416958)
Ryanta Damara Putra (56416732)
Kelas : 1IA24
Jurusan :
Teknik Informatika
Fakultas : Teknologi Industri
Dosen :
Dian Sri Mulyani
UNIVERSITAS
GUNADARMA
KALIMALANG
2016
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas izin dan
kehendak-Nya makalah sederhana ini dapat kami rampungkan tepat pada waktunya.
Penulisan
dan pembuatan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu
Sosial Dasar. Adapun yang kami bahas dalam makalah sederhana ini mengenai
Masyarakat Pedesaan dan Masyarakat Perkotaan.
Dalam
penulisan makalah ini kami menemui berbagai hambatan yang dikarenakan Ilmu
Pengetahuan kami mengenai hal yang berkenan dengan penulisan makalah ini. Oleh
karena itu sudah sepatutnya kami berterima kasih kepada dosen mata kuliah kami
yakni Ibu Dian Sri Mulyani yang lebih memberikan ilmu yang berguna bagi kami.
Kami
menyadari akan kemampuan kami yang masih amatir. Dalam makalah ini kami sudah
berusaha semaksimal mungkin, tapi kami yakin makalah ini masih banyak
kekurangan. Oleh karena itu kami mengharapkan saran serta kritik yang membangun
agar lebih maju di masa yang akan datang.
Harapan
kami makalah ini dapat menjadi referensi bagi kami dalam mengarungi masa depan.
Kami juga berharap agar makalah ini dapat berguna bagi orang yang membacanya.
Bekasi, Oktober 2016
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
1.2 Rumusan
Masalah
1.3 Tujuan
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Masyarakat
2.2 Masyarakat
Perkotaan
2.3 Masyarakat
Pedesaan
2.4 Hubungan
antara Masyarakat Pedesaan dan Masyarakat Perkotaan
2.5 Aspek Positif
2.6 Ciri-ciri
Sosial Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan
2.7 Perbedaan Masyarakat Pedesaan dan
Masyarakat Perkotaan
2.8 Studi Kasus
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masyarakat pedesaan di Indonesia tergolong masyarakat yang sangat jauh tertinggal, hal ini disebabkan keberedaan wilayah yang jauh dari pusat pembangunan Nasional, bahkan hampir tidak tersentuh oleh pembangunan Nasional. Beberapa metode dan pendekatan telah dikembangkan untuk memahami masalah dan membantu merumuskan kebijakan guna memecahkan masalah pembangunan pedesaan. Sejak tahun 1970an para pakar banyak yang memanfaatkan metode, pendekatan, dan logika berfikir survei verifikatif dalam meriset masalah sosial masyarakat pedesaan.
Di Indonesia, pertumbuhan penduduk semakin meningkat, terutama di daerah perkotaan. Banyak masyarakat desa mencari kehidupan yang lebih baik di perkotaan. Mereka berfikir bahwa di perkotaan adalah sumber mata pencaharian terbesar dibandingkan di pedesaan. Mereka juga menganggap bahwa kehidupan di kota lebih baik daripada di desa. Namun, pada kenyataannya kehidupan di kota tidak sebaik yang mereka bayangkan. Dalam hal ini penulis akan membahas dan menjelaskan tentang ruang lingkup perbedaan masyarakat pedesaan dengan masyarakat kota.
1.2 Rumusan Masalah
Masyarakat desa dengan kota
sering menjadi perdebatan dalam hal perbedaan maupun interaksi. Untuk itu ada
beberapa hal yang perlu dipahami dan dimengerti tentang masyarakat desa dan kota yaitu:
1.
Apa
pengertian masyarakat perkotaan dan perbedaan dengan masyarakat pedesaan ?
2.
Bagaimana
hubungan masyarakat perkotaan dengan masyarakat pedesaan?
3.
Apa
aspek positif dan negatif dari lingkungan perkotaan?
4.
Apa yang dimaksud dengan masyarakat
pedesaan ?
5.
Apa perbedaan masyarakat pedesaan dan
masyarakat perkotaan?
1.3 Tujuan
Ada beberapa tujuan dalam
penulisan Tugas Makalah ini, beberapa diantaranya adalah :
1.
Sebagai
pengisi nilai tugas dari mata pelajaran Ilmu Sosial Dasar.
2.
Makalah
ini berguna untuk memberikan pengetahuan tentang Masyarakat Perkotaan dan
Masyarakat Pedesaan.
3.
Pembaca
dapat memahami dan menghyati kenyataan yang diwujudkan oleh gejolak masyarakat
perkotaan dan pedesaan.
4.
Mengkaji
hubungan antara masyarakat perkotaan dan pedesaan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Masyarakat
Sebelum kita bicara lebih lanjut masalah masyarakat, baiknya kita tinjau
terlebih dahulu definisi tentang masyarakat.
Berikut beberapa definisi masyarakat dari para sarjana :
1.
M. J.
Herskovits : Masyrakat adalah kelompok individu yang diorganisasikan dan
mengikuti satu cara hidup tertentu.
2.
J. L.
Gillin dan J. P. Gillin : Masyarakat adalah kelompok manusia yang tersebar dan
mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap, dan perasaan persatuan yang sama. Masyarakat itu meliputi
pengelompokkan-pengelompokkan yang lebih kecil.
3.
R. Linton
: Masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang telah cukup lama hidup dan
bekerja sama, sehingga mereka ini dapat mengorganisasikan dirinya berpikir
tentang dirinya dalam suatu kesatuan sosial dengan batas – batas tertentu.
Syarat terbentuknya masyarakat, yaitu :
1.
Sejumlah
manusia yang hidup bersama dalam waktu yang relatif lama.
2.
Merupakan
satu kesatuan .
3.
Merupakan
suatu sistem hidup bersama, yaitu yang menimbulkan kebudayaan dimana setiap
anggota masyarakat merasa dirinya masing-masing terikat dengan kelompoknya.
2.2
Masyarakat
Perkotaan
Masyarakat perkotaan sering disebut
dengan urban community, pengertiannya
lebih ditekankan pada sifat-sifat kehidupannya serta ciri-ciri kehidupannya
yang berbeda dengan masyarakat pedesaan.
Perhatian khusus masyarakat kota tidak
terbatas pada aspek-aspek seperti pakaian, makanan, dan perumahan. Tetapi
mempunyai perhatian lebih luas lagi. Orang kota sudah memandang penggunaan
kebutuhan hidup, artinya oleh hanya sekadarnya atau apa adanya. Hal ini
disebabkan oleh pandangan warga kota sekitarnya. Kalau menghidangkan makanan
misalnya, yang diutamakan adalah bahwa yang menghidangkannya mempunyai
kedudukan social yang tinggi. Bila ada tamu misalnya, diusahakan menghidangkan
makanan-makanan yang ada di kaleng.
2.3
Masyarakat
Pedesaan
Masyarakat
pedesaan adalah masyarakat, yaitu jumlah penduduk yang tinggal pada suatu luas
wilayah tertentu misalnya saja jumlah per KM” (kilometer persegi) atau jumlah
per hektar. Kepadatan penduduk ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap pola
pembangunan perumahan. Di desa jumlah penduduk sedikit, tanah untuk keperluan
perumahan cenderung ke arah horizontal, jarang ada bangunan rumah yang
bertingkat.
Lingkungan hidup di pedesaan sangat
jauh berbeda dengan lingkungan di perkotaan. Lingkungan pedesaan terasa lenih
dekat dengan alam bebas. Udaranya bersih, sinar matahari cukup, tanahnya segar
diselimuti berbagai jenis tumbuhan dan satwa yang terdapat disela – sela
pepohonan, dipermukaan tanah, di rongga-rongga bawah tanah ataupun beterbangan
di udara bebas. Air yang menetes, merembes atau memancar dari sumber-sumbernya
dan kemudian mengalir melalui anak-anak sungai mengairi petak-petak persawahan.
Semua ini sangat berlainan dengan lingkungan perkotaan.
2.4
Hubungan
antara Masyarakat Pedesaan dan Masyarakat Perkotaan
Masyarakat
desa dan perkotaan masih mempunyai keterhubungan yang erat, bersifat
ketergantungan, karena diantara mereka saling membutuhkan. Kota tergantung pada
desa dalam memenuhi kebutuhan warganya akan bahan-bahan pangan seperti beras,
sayur, daging, dan ikan. Desa juga merupakan sumber tenaga kasar bagi
jenis-jenis pekerjaan tertentu di kota, misalnya saja buruh bangunan dan tukang
becak. Mereka biasanya adalah pekerja-pekerjaan musiman. Pada saat musim tanam,
mereka sibuk bertani. Bila pekerjaan di bidang pertanian mulai menurun,
sementara menunggu masa panen mereka merantau ke kota terdekat untuk melakukan
pekerjaan apa saja.
Sebaliknya,
kota menghasilkan barang-barang yang
diperlukan oleh orang desa seperti bahan-bahan pakaian, alat, dan
obat-obatan pembasmi hama pertanian, minyak tanah, obat-obatan untuk memelihara
kesehatan dan alat transportasi. Kota juga menyediakan tenaga kerja yang
melayani dibidang jasa atau pelayanan yang dibutuhkan oleh orang desa tetapi
tidak dapat dilakukan sendiri, misalnya tenaga kerja dibidang medis atau
kesehatan, montir, elektronika, dan alat transportasi serta tenaga yang mampu
memberikan bimbingan dalam upaya peningkatan hasil budidaya pertanian,
peternakan, ataupun perikanan.
2.5
Aspek Positif dan Negatif
Perkembangan kota merupakan manifestasi dari pola kehidupan sosial, ekonomi
, kebudayaan dan politik . Kesemuanya ini akan dicerminkan dalam komponen –
komponen yang memebentuk struktur kota tersebut . Jumlah dan kualitas komponen
suatu kota sangat ditentukan oleh tingkat perkembangan dan pertumbuhan kota
tersebut
Secara umum dapat dikenal bahwa suatu
lingkungan perkotaan , seyogyanya mengandung 5 unsur yang meliputi :
- Wisma
: Untuk tempat berlindung terhadap alam sekelilingnya.
- Karya
: Untuk penyediaan lapangan kerja.
- Marga
: Untuk pengembangan jaringan jalan dan telekomunikasi.
- Suka
: Untuk fasilitas hiburan, rekreasi, kebudayaan, dan kesenian.
- Penyempurnaan
: Untuk fasilitas keagamaan, perkuburan, pendidikan, dan utilitas umum.
Untuk itu semua , maka fungsi dan tugas
aparatur pemerintah kota harus ditingkatkan :
- Aparatur
kota harus dapat menangani berbagai masalah yang timbul di kota . Untuk
itu maka pengetahuan tentang administrasi kota dan perencanaan kota harus
dimilikinya .
- Kelancaran
dalam pelaksanaan pembangunan dan pengaturan tata kota harus dikerjakan
dengan cepat dan tepat , agar tidak disusul dengan masalah lainnya.
- Masalah
keamanan kota harus dapat ditangani dengan baik sebab kalau tidak , maka
kegelisahan penduduk akan menimbulkan masalah baru.
- Dalam
rangka pemekaran kota , harus ditingkatkan kerjasama yang baik antara para
pemimpin di kota dengan para pemimpin di tingkat kabupaten tetapi juga
dapat bermanfaat bagi wilayah kabupaten dan sekitarnya .
2.6
Ciri-ciri
Sosial Masyarakat Pedesaan dan Masyarakat Perkotaan
Ciri-ciri
yang mencolok pada masyarakat pedesaan dan perkotaan meliputi :
1.
Jumlah
dan Kepadatan Penduduk
Jumlah penduduk di perkotaan jauh lebih
padat dibandingkan dengan di pedesaan.
2.
Lingkungan
Hidup
Lingkungan hidup di perkotaan jauh
lebih maju dan modern dibandingkan dengan lingkungan di pedesaan yang sangat
tradisional.
3.
Mata
Pencaharian
Mata pencaharian di
pedesaan masih mengandalkan alam sekitar desa, seperti nelayan, petani,
peternak hewan, dll. Sedangkan di perkotaan sudah.
4.
Corak
Kehidupan Sosial
Masyarakat desa
sangat mengutamakan sosial live nya. Mereka bergotong royong melakukan tanpa
ada unsur uang atau materi. Namun, karena masyarakat kota yang syarat akan
materi jadi segala sesuatu yang dilakukan atas dasar materi untuk kepentingan
diri sendiri.
5.
Statifikasi
Sosial
Artinya
pembedaan penduduk atau masyarakat ke
dalam kelas-kelas secara bertingkat.
6.
Mobilitas
Sosial
Adalah suatu proses
perpindahan, atau pergerakkan lapisan (strata sosial) seseorang atau kelompok.
7.
Pola
Interaksi Sosisal
Adalah hubungan
antara dua individu atau lebih dimana kelakuan individu yang satu mempengaruhi,
mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu lain atau sebaliknya.
2.7 Perbedaan Masyarakat Pedesaan dan Masyarakat Perkotaan
1.
Lingkungan Umum Dan Orientasi Terhadap Alam
Masyarakat pedesaan berhubungan kuat
dengan alam, disebabkan oleh lokasi geografinya di daerah desa. Mereka sulit
"mengontrol" kenyataan alam yang dihadapinya, padahal bagi petani
realitas alam ini sangat vital dalam menunjang kehidupannya. Tentu akan berbeda
dengan penduduk yang tinggal di kota, yang kehidupannya "bebas" dari
realitas alam. Misalnya dalam bercocok tanah dan rnenuaj harus pada waktunya, padahal
mata pencaharian juga menentukan relasi dan reaksi sosial.
2.
Pekerjaan Atau Mata Pencaharian
Pada umumnya atau kebanyakan mata
pencaharian daerah pedesaan adalah bertani. Tetapi mata pencaharian berdagang
(bidang ekonomi) pekerjaan sekunder dari pekerjaan yang nonpertanian. Sebab
beberapa daerah pertanian tidak lepas dari kegiatan usaha (business) atau
industri, demikian pula kegiatan mata pencaharian keluarga untuk tujuan
hidupnya lebih luas lagi. Di masyarakat kota mata pencaharian cenderung menjadi
terspesialisasi, dan spesialisasi itu sendiri dapat dikembangkan, mungkin
menjadi manajer suatu perusahaan, ketua atau pimpinan dalam suatu birokrasi
3.
Ukuran Komunitas
Komunitas pedesaan biasanya lehih kecil
dari komunitas perkotaan. Dalam mata pencaharian di bidang pertanian, imbangan
tanah dengan manusia cukup tinggi bila dibandingkan dengan industri dan
akibatnya daerah pedesaan mempunyai penduduk yang rendah per kilometer perseginya.
Tanah pertanian luasnya bervariasi. Bergantung kepada tipe usaha taninya, tanah
yang cukup luasnya sanggup menalnpung usaha tani dan usaha ternak sesuai dengan
kemampuannya. Oleh sebab itu komunitas pedesaan lebih kecil daripada komunitas
perkotaan.
4.
Kepadatan Penduduk
Penduduk desa kepadatannya lebih rendah
bila dibandingkan dengan kepadatan penduduk kota. Kepadatan penduduk suatu
komunitas kenaikannya berhubungan dengan klasifikasi dari kota itu sendiri.
Contohnya dalam perubahan-perubahan permukiman, dari penghuni satu keluarga
(individual family) megjadi pembangunan multikeluarga dengan flat dan apartemen
seperti yang terjadi di kota.
5.
.Pola Kepemimpinan
Menentukan kepemimpinan di daerah
pedesaan cenderung banyak ditentukan oleh kualitas pribadi dari individu
dibandingkan dengan kota. Keadaan ini disebabkan oleh lebih luasnya kontak
tatap muka, dan individu lebih banyak saling mengetahui daripada di daerah
kota, Misalnya karena kesalehan, kejujuran, jiwa pengorbanannya. dan
pengalamannya. Kalau kriteria ini melekat terus pada generasi selanjutnya, maka
kriteria keturunan pun akan menentukan kepemimpinan di pedesaan„
2.8 Studi Kasus
Analisis
Kasus dan Solusi :
Memang sudah kita
ketahui bahwa perkotaan menawarkan dan menampilkan begitu banyak harapan,
kesempatan maupun peluang yang tidak bisa didapatkan di pedesaan. Minat
masyarakat pedesaan tersebut terjadi karena mereka mendengar kabar dari kerabat
mereka yang mungkin sudah terlebih dahulu terjun ke perkotaan dan juga bisa
melalui tontonan yang mereka tonton sehari – hari. Minat tersebut terlihat
dengan maraknya urbanisasi masyarakat pedesaan ke kota apalagi pada saat
lebaran usai.
Para pendatang baru
ini hanya memikirkan cara mereka mendapatkan penghasilan dan pendapatan yang
lebih. Namun mereka tidak memikirkan langkah lebih lanjut apa yang akan mereka
lakukan, dengan siapa mereka tinggal. Ini bisa menyebabkan menumpukknya
masyarakat non produktif atau pengangguran karena biasanya masyarakat pendatang
dari pedesaan tidak memikirkan langkah kedepan apa yang akan mereka lakukan.
Pemerintah seharusnya
melakukan langkah dan tindakan konkrit dalam menyelesaikan permasalahan
perkotaan dan pedesaan seperti ini, apabila dibiarkan akan semakin serius.
Penumpukan penduduk
di perkotaan, tidak meratanya perekonomian di perkotaan dan pedesaan merupakan
salah satu masalah yang dapat timbul. Langkah yang dapat dilakukan pemerintah
dapat seperti pemerataan pembangunan secara terstruktur bagi pedesaan agar
tidak terdapat kesenjangan antara perkotaan dan pedesaan sehingga langkah
tersebut secara perlahan dapat membuat masyarakat untuk menunda langkah mereka
untuk urbanisasi. Langkah – langkah seperti pemberian suntikan modal dana usaha
juga dapat dilakukan seperti pada artikel diatas agar menimbulkan minat
masyaratak khususnya pedesaan untuk menjadi wirausaha dan meningkatkan lapangan
pekerjaan, jadi lapangan pekerjaan menyebar tidak hanya terpusat di perkotaan
namun di pedesaan juga.
BAB III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
Masyarakat
perkotaan sering disebut dengan urban
community, pengertiannya lebih ditekankan pada sifat-sifat kehidupannya
serta ciri-ciri kehidupannya yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Dalam
masyarkata pedesaan dan masyarakat perkotaan mempunyai hubungan yang erat.bersifat
ketergantungan,Karena di antara mereka saling membutuhkan. Adapun perbedaan
dari masyarakata pedesaan dan masyarakat perkotaan seperti mata
pencaharian,lingkungan dll.
3.2
Saran
Pembangunan
di setiap daerah harus merata agar tidak ada lagi kesenjangan sosial. Oleh
karena itu, pemerintah harus lebih adil dalam pembangunan. Pemerintah juga
harus memperhatikan pembangunan
infrastrutur di pedesaan.
DAFTAR PUSAKA
Harwantiyoko
& Katuuk Neltje F.1997.MKDU ILMU
SOSIAL DASAR.Jakarta.Gunadarma.

Komentar
Posting Komentar